Wacana
Perempuan dalam Perspektif Feminisme
Konsep Perempuan dalam Tasawuf
Disampaikan
oleh Nurhasanah
(Alumni ISID Gontor – Ponorogo dan ICAS –Paramadina
Jakarta)
Disampaikan dalam kajian bulanan Komunitas Makrifat (KoMa) pada tanggal 10 Oktober 2015.
Abstrak
Nama-nama Allah SWT memiliki lokus manifestasi yang banyak dan beragam
bentuknya, namun semua itu dapat dirangkum dalam sebuah pembagian mendasar,
yaitu: nama jamâl (keindahan) dan nama jalâl (keagungan). Dua
nama-Nya ini telah meliputi nam-nama yang lain, maksudnya yaitu dari nama jamâl
dan jalâl telah menjadi sumber dari kemunculan nama-nama yang lain. Jamâl
mewakili sifatNya yang feminin, dan jalâl mewakili sifatNya yang
maskulin. Salah satu ciptaan yang dapat menampung kedua nama tersebut adalah
perempuan. Diri perempuan adalah salah satu manifestasi jamâl dan
jalâl Allah yang sempurna, karena pada dirinya terdapat wujud keindahan
yang nyata, bukan hanya secara lahiriah,
tapi juga sisi spritualitas perempuan juga masih belum menjadi sorotan diskusi
atau kajian-kajian kewanitaan.
Oleh karena itu, kaum sufi memandang diri perempuan sebagai perwujudan
manifestasi yang paripurna. Dalam diri perempuan terdapat dua unsur, yaitu
keindahan dan keagungan yang menampilkan betapa perempuan sangat layak
disandingkan dengan sifat-sifat yang
elegan, kuat, lemah lembut, dan mulia di muka bumi. Perempuan dalam pandangan
tasawuf sangat erat kaitannya dengan perempuan dalam pandangan Al-Qur’an, namun
tidak banyak manusia yang dapat menampilkan sisi spiritualitas perempuan, karena
ada golongan manusia hanya memanfaatkan Al-Qur’an sebagai pondasi hukum-hukum
syari’at belaka, padahal jika ditelusuri lebih dalam Al-Qur’an merupakan sumber
informasi yang lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, karena
Al-Qur’an diwariskan pada figur yang sempurna Rasulullah saw, maka tidak sah
rasanya bila Al-Qur’an hanya dimanfaatkan pada satu aspek saja. Namun begitu, untuk mengungkap makna-makna
Al-Qur’an yang tersirat, kaum sufi mengekspresikan sisi tersebut berdasarkan
keilmuan mereka yang sangat berbeda dari pandangan kaum fakih, teolog, sampai
orientalis sekalipun atau kaum feminis yang juga berupaya mengaburkan peran dan
kepentingan perempuan di dunia ini.
Orang-orang barat yang sangat jauh
dengan sumber Al-Qur’an akan terus berbeda dalam menfasirkan dan menyimpulkan
makna hakiki perempuan. Mereka tidak lebih hanya mampu menyimpulkan bahwa
manusia, baik laki—laki ataupun perempuan terdiri dari wujud materi saja, manusia
tidak mengandung unsur spirit (baca: ruhani). Manusia dalam kehidupan barat kurang bisa menghargai
dirinnya sendiri secara utuh, beberapa sebab telah ditemukan, seperti kehidupan
mereka yang hanya disandarkan pada materi saja, akhirnya jadilah mereka manusia
matrealistik. Mereka hidup semata-mata karena mencari materi untuk mencukupi
kehidupan yang materi juga. Begitulah mereka yang hidup, berpikir, dan belajar
sesuai tradisi yang sudah ada di dunia barat. Sedangkan Islam sejak masa
kehadirannya ditengah-tengah umat manusia telah mengangkat derajat manusia
setinggi-tingginya, dan Allah berfirman melalui wahyu bahwa manusialah yang
memiliki derajat tinggi jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain.
Manusia bukan hanya memiliki akal saja, tapi fungsi akal itulah yang menjadikan
manusia jauh berbeda derajatnya dengan yang lain.
Menurut seorang sufi yang agung Ibn al-‘Arabi, ia mengatakan bahwa
perempuan merupakan tempat penjelmaan Tuhan yang lengkap dan sempurna. Tuhan
menciptakan rahim dalam diri perempuan sebagai tempat bagi-Nya untuk
melangsungkan penciptaan yang lain, Tuhan tidak serta merta menciptakan manusia
dalam sekejap, namun melalui proses dan salah satunya adalah proses pembuahan
janin dalam rahim (indung telur), kemudian berkembang dalam bentuk yang
sempurna. Hal inilah yang membuat perempuan begitu sempurna di mata kaum sufi.
Perempuan memiliki kekuatan dahsyat yang tidak nampak oleh orang-orang
disekitarnya. Perempuan mampu menanggung beban berat didalam tubuhnya, dan jika
beban itu diberikan kepada laki-laki, maka belum tentu mereka sanggup
memikulnya. Tuhan Maha Mengetahui apappun yang tidak kita ketahui, karena pengetahuan
kita sangat terbatas.
Untuk meyakinkan bahwa perempuan memiliki sisi spiritualitas yang tinggi,
kaum sufi juga mengingatkan kita kembali tentang pengalaman-pengalaman
spiritual perempuan yang nama-namanya diabadikan didalam Al-Qur’an dan riwayat-riwayat,
sebut saja sayyidah Maryam as, Asiah binti Imran, Ratu Saba’, Khadijah binti
Khuwailid, Zulaikha, Fathimah al-Zahra’, dan seterusnya. Pengalaman spiritual
diidentikkan dengan ujian-ujian berat yang diberikan Allah kepada mereka yang
dikehendaki, tidak lain adalah untuk menguji keimanan mereka dan meneguhkannya
(una).

