Headlines News :

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.

My Blog List

Text Widget

Total Pageviews

Label

Labels

twitter

1 2 3 4

Pages

Followers

Popular Posts

Menu Utama

Home » » Konsep Perempuan dalam Tasawuf

Konsep Perempuan dalam Tasawuf

Written By Komunitas Ma'rifah on Sabtu, 10 Oktober 2015 | 02.48



Wacana Perempuan dalam Perspektif Feminisme
Konsep Perempuan dalam Tasawuf
Disampaikan oleh Nurhasanah
(Alumni ISID Gontor – Ponorogo dan ICAS –Paramadina Jakarta)
Disampaikan dalam kajian bulanan Komunitas Makrifat (KoMa) pada tanggal 10 Oktober 2015. 


Abstrak

Nama-nama Allah SWT memiliki lokus manifestasi yang banyak dan beragam bentuknya, namun semua itu dapat dirangkum dalam sebuah pembagian mendasar, yaitu: nama jamâl (keindahan) dan nama jalâl (keagungan). Dua nama-Nya ini telah meliputi nam-nama yang lain, maksudnya yaitu dari nama jamâl dan jalâl telah menjadi sumber dari kemunculan nama-nama yang lain. Jamâl mewakili sifatNya yang feminin, dan jalâl mewakili sifatNya yang maskulin. Salah satu ciptaan yang dapat menampung kedua nama tersebut adalah perempuan. Diri perempuan adalah salah satu manifestasi jamâl dan jalâl Allah yang sempurna, karena pada dirinya terdapat wujud keindahan yang nyata,  bukan hanya secara lahiriah, tapi juga sisi spritualitas perempuan juga masih belum menjadi sorotan diskusi atau kajian-kajian kewanitaan.
Oleh karena itu, kaum sufi memandang diri perempuan sebagai perwujudan manifestasi yang paripurna. Dalam diri perempuan terdapat dua unsur, yaitu keindahan dan keagungan yang menampilkan betapa perempuan sangat layak disandingkan dengan sifat-sifat  yang elegan, kuat, lemah lembut, dan mulia di muka bumi. Perempuan dalam pandangan tasawuf sangat erat kaitannya dengan perempuan dalam pandangan Al-Qur’an, namun tidak banyak manusia yang dapat menampilkan sisi spiritualitas perempuan, karena ada golongan manusia hanya memanfaatkan Al-Qur’an sebagai pondasi hukum-hukum syari’at belaka, padahal jika ditelusuri lebih dalam Al-Qur’an merupakan sumber informasi yang lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, karena Al-Qur’an diwariskan pada figur yang sempurna Rasulullah saw, maka tidak sah rasanya bila Al-Qur’an hanya dimanfaatkan pada satu aspek saja.  Namun begitu, untuk mengungkap makna-makna Al-Qur’an yang tersirat, kaum sufi mengekspresikan sisi tersebut berdasarkan keilmuan mereka yang sangat berbeda dari pandangan kaum fakih, teolog, sampai orientalis sekalipun atau kaum feminis yang juga berupaya mengaburkan peran dan kepentingan perempuan di dunia ini.
   Orang-orang barat yang sangat jauh dengan sumber Al-Qur’an akan terus berbeda dalam menfasirkan dan menyimpulkan makna hakiki perempuan. Mereka tidak lebih hanya mampu menyimpulkan bahwa manusia, baik laki—laki ataupun perempuan terdiri dari wujud materi saja, manusia tidak mengandung unsur spirit (baca: ruhani).  Manusia dalam kehidupan barat kurang bisa menghargai dirinnya sendiri secara utuh, beberapa sebab telah ditemukan, seperti kehidupan mereka yang hanya disandarkan pada materi saja, akhirnya jadilah mereka manusia matrealistik. Mereka hidup semata-mata karena mencari materi untuk mencukupi kehidupan yang materi juga. Begitulah mereka yang hidup, berpikir, dan belajar sesuai tradisi yang sudah ada di dunia barat. Sedangkan Islam sejak masa kehadirannya ditengah-tengah umat manusia telah mengangkat derajat manusia setinggi-tingginya, dan Allah berfirman melalui wahyu bahwa manusialah yang memiliki derajat tinggi jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Manusia bukan hanya memiliki akal saja, tapi fungsi akal itulah yang menjadikan manusia jauh berbeda derajatnya dengan yang lain.
Menurut seorang sufi yang agung Ibn al-‘Arabi, ia mengatakan bahwa perempuan merupakan tempat penjelmaan Tuhan yang lengkap dan sempurna. Tuhan menciptakan rahim dalam diri perempuan sebagai tempat bagi-Nya untuk melangsungkan penciptaan yang lain, Tuhan tidak serta merta menciptakan manusia dalam sekejap, namun melalui proses dan salah satunya adalah proses pembuahan janin dalam rahim (indung telur), kemudian berkembang dalam bentuk yang sempurna. Hal inilah yang membuat perempuan begitu sempurna di mata kaum sufi. Perempuan memiliki kekuatan dahsyat yang tidak nampak oleh orang-orang disekitarnya. Perempuan mampu menanggung beban berat didalam tubuhnya, dan jika beban itu diberikan kepada laki-laki, maka belum tentu mereka sanggup memikulnya. Tuhan Maha Mengetahui apappun yang tidak kita ketahui, karena pengetahuan kita sangat terbatas.
Untuk meyakinkan bahwa perempuan memiliki sisi spiritualitas yang tinggi, kaum sufi juga mengingatkan kita kembali tentang pengalaman-pengalaman spiritual perempuan yang nama-namanya diabadikan didalam Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, sebut saja sayyidah Maryam as, Asiah binti Imran, Ratu Saba’, Khadijah binti Khuwailid, Zulaikha, Fathimah al-Zahra’, dan seterusnya. Pengalaman spiritual diidentikkan dengan ujian-ujian berat yang diberikan Allah kepada mereka yang dikehendaki, tidak lain adalah untuk menguji keimanan mereka dan meneguhkannya (una).
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Cari Blog Ini

 
Support : Komunitas Ma'rifat | Alumni ICAS
Proudly powered by Sairul El-Nafsahu
Copyright © 2014. KOMA - All Rights Reserved
Original Design by KOMA Sairul El-Nafsahu