Oleh: Tony
Ada tiga buku Etika tulisan Kant:
Groundwork of Metaphysical Ethic(1785), Critique of Practical Reason (1788),
Metaphysic of Ethic (1797)
Pendahuluan
Immanuel Kant nama pertamanya adalah nama hasil baptis dan gereja-gereja membunyikan loncengnya di hari kematiannya. Meskipun begitu, dia adalah orang yang pernah mendapat larangan menulis dan berbicara secara publik tentang Agama dari kerajaan masa itu. Hal itu setelah keluarnya essaiReligion on the Bariers of Bare Ratio (1793).
Deontologi
Etika Kantian dicirikan dengan anjuran mengerjakan
sesuatu atas dasar sebagai kewajiban (deon). Dari sisi ini, Arthur Schopenhouer
(1788-1860) dalam bukunya On The Basis of Morality (1840) menyajikan
analisis atas buku Kant Groundwork. Diantara kritikannya adalah bahwa
perbuatan yang hanya didasarkan atas kewajiban itu tidaklah bermoral.
Kewajiban moral menurut
Kant bisa diketahui
dengan akal. Manusia bisa mengetahui apa yang benar atau salah hanya melalui
perenungan abstrak, dikenal dengan aliran moral
rationalism. Ini dilawankan dengan dua alternatif lain:moral empiricism,
yang menganggap
baik dan jahat dalam moral sebagai hal yang bisa kita pahami dari dunia danmoral mysticism,
yang menganggap
moralitas sebagai sebuah masalah penginderaan beberapa ciri supernatural, seperti persetujuan Tuhan. Meskipun dua
posisi itu salah dan berbahya, menurut Kant, moral
empiricism itu lebih lagi,
karena ia sama dengan teori bahwa benar secara moral itu tidak ada kecuali
pencarian kesenangan.
Karena moral rasional dilawankan dengan
moral mistisime ini, ada beberapa orang yang menganggap Kant bertentangan
dengan Agama. Seperti Taufiq Thawil (1901-1909), seorang guru besar Filsafat
Moral di Universitas Kairo dalam bukunya Falsafat al-Akhlȃq: nasyatuhȃ wa
tathawwuruhȃ (4:1979). Ini mungkin berbeda dengan agamawan
yang semisal St. Thomas Augustine yang bilang bahwa kehidupan moral adalah
kehidupan yang sesuai dengan rasio (James Rachels:1999, 63).
Maxim dan Categorical Imperative
‘May you live your life as if the maxim
of your actions were to become universal law’
Maxim adalah aturan yang yang menjadi
dasar sebuah perilaku. Seperti ‘ketika berbohong bisa menyelematkan nyawa
orang, maka berbohong boleh’ dan ‘ketika berhutang maka berjanjilah kamu akan
membayarnya, meski kamu tahu tidak mampu membayar’. Sebuah maxim menurut Kant
harus asumsikan menjadi universal law, yang teruji oleh Categorical Imperative,
yaitu prinsip-prinsip yang harus diterima akal. Andai itu bisa, maka berbuatan
atas dasar maxim itu diperbolehkan secara moral.
Categorical
Imperative untuk maxim pertama adalah bahwa kalau bohong itu boleh, maka
seperti membunuh diri sendiri; semua orang akan tidak saling mempercayai.
Karena itu maxim pertama tidak lolos dari ujian Categorical Imperative. Karena
itu orang harus selalu jujur. Dan contoh universal law adalah berbuat jujur
meski ketika ada pembunuh yang menanyakan korbannya. Karena kita sudah pasti bahwa
jujur adalah universal law dan konsekuensi darinya, dalam hal ini terbunuhnya
korban- adalah suatu kemungkinan yang belum pasti.
Beberapa
kritikan atas contoh maxim kebohongan pada saat tertentu itu dilarang adalah
bahwa konsekuensi terbunuh yang menurut Kant belum pasti itu berarti meragukan
kemampuan manusia untuk memikirkan kepastian-kepastian konsekuensi kejadian di
masa depan.
Disamping Formula
of Universal Law (contradiction of concepts or will) diatas, ada dua (2) formula lain utnuk menguji Maxim, yaitu: Formula of
Humanity, dan Formula of Autonomy. Otonomi adalah kaemampuan untuk menjadi
pembuat hukum moral, dengan kata lain, untuk memberi hukum moral pada diri
sendiri. Otonomi dilawankan dengan heteronomi, yang terdiri dari memiliki
keinginan seseorang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar dirinya. Karena
kekuatan-kekuatan diluar dirinya hanya bisa menentukan peruatan secara
sementara. Kant percaya bahw otonomi adalah satu-satunya dasar bagi hukum moral
tak sementara.
Berikut adalah tahap-tahap dalam
pengujian Maxim dengan Formula of Universal Law:
- Menemukan maxim pelaku (yaitu perbuatan dipasangkan dengan motifnya). Ambil sebagai contoh ‘Saya akan berbohong demi keuntungan pribadi’. Kebohongan adalah perbuatan; motifnya adalah untuk memenuhi sejenis keinginan. Dipasangkan bersama, mereka membentuk Maxim
- Membayangkan dunia didalamnya semua orang dalam situasi yang sama mengikuti Maxim itu. Tanpa pengecualian satu pun. Ini supaya kita menahan orang pada prinsip yang sama yang kita haruskan pada diri kita
- Putuskan apakah kontradiksi atau tak rasional timbul dalam dunia tadi saat mengikuti Maxim itu
- Jika sebuah kontradiksi atau irrasionalitas timbul, perbuatan atas Maxim itu tidak diperbolehkan dalam dunia riil
- Jika tidak ada kontradiksi, maka perbuatan berdasarkan Maxim itu diperbolehkan, dan sekali waktu diharuskan
Kant dan Allamah
Thabathabai
Al-‘Allamah Thabathabai menganggap
manusia secara Fitri mempunyai prinsip untuk memanfaatkan sesuatu, termasuk
manusia (Ushul:584, Muthahhari: 39). Walaupun Muthahhari tidak setuju
itu berlaku umum (43).
Baik dan buruk
adalah hasil dari konsep cerapan lain, yaitu wujub. Dari sini mungkin bisa
dikatakan bahwa baik dan buruk, berarti moralitas, itu tidak berasal dari
pemikiran rasional. Berarti berlawanan dengan Kant yang mendasarkan formula
pembenaran Maxim pada manusia sebagai makhluk rasional atau rasio itu sendiri
(Muthahhari: 18).
Pendidikan Moral
Hampir dimana ada perkumpulan sosial apapun,
perbincangannya akan mencakup gosip dan argumentasi yang membawa penghakiman
moral dan penilaian tentang kebenaran dan kesalahan perilaku orang lain. Bahkan orang yang biasanya tidak menyukai argumentasi rumit cenderung
berpikir akut dan dengan perhatian besar pada detil ketika mereka terlihat akan
menjustifikasi atau mengutuk perilaku tetangga sebelah rumah mereka.
Pendidikan moral harus mengekploitasi
kecenderungan alami manusia pada penilaian moral ini dengan menghadirkan kepada
murid contoh-contoh perbuatan baik dan buruk dalam sejarah.Melalui debat dan
diskusi manfaat dasar contoh-contoh dalam kasus per kasus, murid akan diberikan
kesempatan untuk mengalami bagi dirinya kebanggan yang kita rasakan untuk
kebaikan moral dan ketidak setujuan yang kita rasakan dalam kejahatan moral.
Bagaimanapun, adalah sebuah keharusan
untuk memilih jenis contoh yang benar untuk mendemonstrasikan kebaikan moral
sejati. Dan disini, Kant bilang, kita tidak
bebas dari kekeliruan dalam dua cara. Pertama kekeliruan yang ada dalam mencoba
menarik perhatian murid supaya bermoral dengan memberikan contoh-contoh yang
didalamnya moralitas dan cinta-diri itu serupa.
Tipe kekeliruan
kedua ada dalam mencoba secara emosinal membangkitkan murid tentang moralits
dengan memberikan contoh-contoh kepahlawanan moral luar biasa diluar hal-hal
yang ada dalam kebiasaan moralitas. Contoh-contoh yang kita pilih harus
menekankan kewajiban sederhana.
Metode pertama, Kant berargumen,
ditakdirkan gagal karena murid tidak akan bisa memahami karakter tak
terkondisikan dari kewajiban. Contoh-contoh itu juga tidak akan begitu
menginspirasi. Ketika kita melihat pengorbanan diri yang luar biasa dalam
mengikuti sebuah prinsip, kita terinspirasi dan tergerak. Tapi ketika kita
melihat seseorang yang mengikuti sebuah prinsip dengan hampir tidak ada
pengorbanan atau biaya sama sekali untuk dirinya, kita tidak terkesan sama
sekali.
Metode kedua juga akan gagal karena itu
lebih menarik emosi dari pada pikiran. Hanya pikiran yang bisa menghasilkan
perubahan yang tahan lama dalam karakter seseorang.Metode ini juga mengarahkan
murid untuk menghubungkan moralitas dengan sensasi sandiwara yang tidak
mungkinterjadi, dan karenanya memandang rendah
kewajiban sehari-hari yang mereka harus penuhi sebagai hal yang membosankan dan
tak berguna.
Walaupun begitu, banyak filem
tentang superhero adalah deontologis dan supervilian adalah utilitiarinist.
Kelebihan dan Kelemahan Teori Etika
Kant
1.
Tidak melihat hasil (perbuatan buruk
bisa memiliki hasil baik)
-
Hasil (kadang ketika hasil yang baik
sangat jelas, jadi lebih baik melangar aturan)
2.
Universal, kemungkinan membuat hukum
antar budaya, ras, dll
-
Tidak fleksibel; kadang ada keadaan
individu yang mengharuskan melanggar aturan
3.
Jelas; anak kecil bisa memahamai
‘jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan’.
-
Kurang motivasi; alasan bahwa satu
perbuatan itu tidak rasional kurang memotivasi
4.
Otonomi,
-
Konflik antar kewajiban; tidak
berbohong atau menyelamatkan hidup manusia
5.
Rasional; tidak dipengaruhi
pertemanan, misalnya
-
Kewajiban absolut; kewajiban
individu tidak bisa absolut
6.
HAM; dasar pembuatan UU HAM
-
Hukum moral; dipertanyakan bagaimana
bisa dihasilkan nilai moral obyektif
7.
Kesamaan dan keadilan
-
Antroposentrik; makhluk non rasioanl
tidak memiliki nilai intrinsik
8.
Hukum internasional
-
Tidak realistik; misalnya bahwa
suatu perbuatan di satu kelompok tertentu dianggap buruk, maka kita tidak bisa
menafikannya begitu saja dengan Maxim
9.
Obyektif; tidak terpengaruh budaya,
interes
-
Sulit menentukan Maxim; ‘jangan
berbohong’ atau ‘jangan menyebabkan kekerasan pada orang lain’
10. Kewajiban; kadang berbuat karena cinta itu salah, tapi kewajiban selalu
benar

