Headlines News :

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.

My Blog List

Text Widget

Total Pageviews

Label

Labels

twitter

1 2 3 4

Pages

Followers

Popular Posts

Menu Utama

Home » » Etika Menurut Immanuel Kant (1724-1804)

Etika Menurut Immanuel Kant (1724-1804)

Written By Komunitas Ma'rifah on Sabtu, 11 April 2015 | 07.49






Oleh: Tony



        Ada tiga buku Etika tulisan Kant: Groundwork of Metaphysical Ethic(1785), Critique of Practical Reason (1788), Metaphysic of Ethic (1797)
Pendahuluan

Immanuel Kant nama pertamanya adalah nama hasil baptis dan gereja-gereja membunyikan loncengnya di hari kematiannya. Meskipun begitu, dia adalah orang yang pernah mendapat larangan menulis dan berbicara secara publik tentang Agama dari kerajaan masa itu. Hal itu setelah keluarnya essaiReligion on the Bariers of Bare Ratio (1793).

Deontologi
Etika Kantian dicirikan dengan anjuran mengerjakan sesuatu atas dasar sebagai kewajiban (deon). Dari sisi ini, Arthur Schopenhouer (1788-1860) dalam bukunya On The Basis of Morality (1840) menyajikan analisis atas buku Kant Groundwork. Diantara kritikannya adalah bahwa perbuatan yang hanya didasarkan atas kewajiban itu tidaklah bermoral.
Kewajiban moral menurut Kant bisa diketahui dengan akal. Manusia bisa mengetahui apa yang benar atau salah hanya melalui perenungan abstrak, dikenal dengan aliran moral rationalism. Ini dilawankan dengan dua alternatif lain:moral empiricism, yang menganggap baik dan jahat dalam moral sebagai hal yang bisa kita pahami dari dunia danmoral mysticism, yang menganggap moralitas sebagai sebuah masalah penginderaan beberapa ciri supernatural, seperti persetujuan Tuhan. Meskipun dua posisi itu salah dan berbahya, menurut Kant, moral empiricism itu lebih lagi, karena ia sama dengan teori bahwa benar secara moral itu tidak ada kecuali pencarian kesenangan.
Karena moral rasional dilawankan dengan moral mistisime ini, ada beberapa orang yang menganggap Kant bertentangan dengan Agama. Seperti Taufiq Thawil (1901-1909), seorang guru besar Filsafat Moral di Universitas Kairo dalam bukunya Falsafat al-Akhlȃq: nasyatuhȃ wa tathawwuruhȃ (4:1979). Ini mungkin berbeda dengan agamawan yang semisal St. Thomas Augustine yang bilang bahwa kehidupan moral adalah kehidupan yang sesuai dengan rasio (James Rachels:1999, 63).
Maxim dan Categorical Imperative
‘May you live your life as if the maxim of your actions were to become universal law’
Maxim adalah aturan yang yang menjadi dasar sebuah perilaku. Seperti ‘ketika berbohong bisa menyelematkan nyawa orang, maka berbohong boleh’ dan ‘ketika berhutang maka berjanjilah kamu akan membayarnya, meski kamu tahu tidak mampu membayar’. Sebuah maxim menurut Kant harus asumsikan menjadi universal law, yang teruji oleh Categorical Imperative, yaitu prinsip-prinsip yang harus diterima akal. Andai itu bisa, maka berbuatan atas dasar maxim itu diperbolehkan secara moral.

Categorical Imperative untuk maxim pertama adalah bahwa kalau bohong itu boleh, maka seperti membunuh diri sendiri; semua orang akan tidak saling mempercayai. Karena itu maxim pertama tidak lolos dari ujian Categorical Imperative. Karena itu orang harus selalu jujur. Dan contoh universal law adalah berbuat jujur meski ketika ada pembunuh yang menanyakan korbannya. Karena kita sudah pasti bahwa jujur adalah universal law dan konsekuensi darinya, dalam hal ini terbunuhnya korban- adalah suatu kemungkinan yang belum pasti.

Beberapa kritikan atas contoh maxim kebohongan pada saat tertentu itu dilarang adalah bahwa konsekuensi terbunuh yang menurut Kant belum pasti itu berarti meragukan kemampuan manusia untuk memikirkan kepastian-kepastian konsekuensi kejadian di masa depan.

Disamping Formula of Universal Law (contradiction of concepts or will) diatas, ada dua (2) formula lain utnuk menguji Maxim, yaitu: Formula of Humanity, dan Formula of Autonomy. Otonomi adalah kaemampuan untuk menjadi pembuat hukum moral, dengan kata lain, untuk memberi hukum moral pada diri sendiri. Otonomi dilawankan dengan heteronomi, yang terdiri dari memiliki keinginan seseorang ditentukan oleh kekuatan-kekuatan diluar dirinya. Karena kekuatan-kekuatan diluar dirinya hanya bisa menentukan peruatan secara sementara. Kant percaya bahw otonomi adalah satu-satunya dasar bagi hukum moral tak sementara.
Berikut adalah tahap-tahap dalam pengujian Maxim dengan Formula of Universal Law:
  1. Menemukan maxim pelaku (yaitu perbuatan dipasangkan dengan motifnya). Ambil sebagai contoh ‘Saya akan berbohong demi keuntungan pribadi’. Kebohongan adalah perbuatan; motifnya adalah untuk memenuhi sejenis keinginan. Dipasangkan bersama, mereka membentuk Maxim
  2. Membayangkan dunia didalamnya semua orang dalam situasi yang sama mengikuti Maxim itu. Tanpa pengecualian satu pun. Ini supaya kita menahan orang pada prinsip yang sama yang kita haruskan pada diri kita
  3. Putuskan apakah kontradiksi atau tak rasional timbul dalam dunia tadi saat mengikuti Maxim itu
  4. Jika sebuah kontradiksi atau irrasionalitas timbul, perbuatan atas Maxim itu tidak diperbolehkan dalam dunia riil
  5. Jika tidak ada kontradiksi, maka perbuatan berdasarkan Maxim itu diperbolehkan, dan sekali waktu diharuskan

Kant dan Allamah Thabathabai
Al-‘Allamah Thabathabai menganggap manusia secara Fitri mempunyai prinsip untuk memanfaatkan sesuatu, termasuk manusia (Ushul:584, Muthahhari: 39). Walaupun Muthahhari tidak setuju itu berlaku umum (43).
Baik dan buruk adalah hasil dari konsep cerapan lain, yaitu wujub. Dari sini mungkin bisa dikatakan bahwa baik dan buruk, berarti moralitas, itu tidak berasal dari pemikiran rasional. Berarti berlawanan dengan Kant yang mendasarkan formula pembenaran Maxim pada manusia sebagai makhluk rasional atau rasio itu sendiri (Muthahhari: 18).

Pendidikan Moral
Hampir dimana ada perkumpulan sosial apapun, perbincangannya akan mencakup gosip dan argumentasi yang membawa penghakiman moral dan penilaian tentang kebenaran dan kesalahan perilaku orang lain. Bahkan orang yang biasanya tidak menyukai argumentasi rumit cenderung berpikir akut dan dengan perhatian besar pada detil ketika mereka terlihat akan menjustifikasi atau mengutuk perilaku tetangga sebelah rumah mereka.
Pendidikan moral harus mengekploitasi kecenderungan alami manusia pada penilaian moral ini dengan menghadirkan kepada murid contoh-contoh perbuatan baik dan buruk dalam sejarah.Melalui debat dan diskusi manfaat dasar contoh-contoh dalam kasus per kasus, murid akan diberikan kesempatan untuk mengalami bagi dirinya kebanggan yang kita rasakan untuk kebaikan moral dan ketidak setujuan yang kita rasakan dalam kejahatan moral.
Bagaimanapun, adalah sebuah keharusan untuk memilih jenis contoh yang benar untuk mendemonstrasikan kebaikan moral sejati. Dan disini, Kant bilang, kita tidak bebas dari kekeliruan dalam dua cara. Pertama kekeliruan yang ada dalam mencoba menarik perhatian murid supaya bermoral dengan memberikan contoh-contoh yang didalamnya moralitas dan cinta-diri itu serupa. Tipe kekeliruan kedua ada dalam mencoba secara emosinal membangkitkan murid tentang moralits dengan memberikan contoh-contoh kepahlawanan moral luar biasa diluar hal-hal yang ada dalam kebiasaan moralitas. Contoh-contoh yang kita pilih harus menekankan kewajiban sederhana.
Metode pertama, Kant berargumen, ditakdirkan gagal karena murid tidak akan bisa memahami karakter tak terkondisikan dari kewajiban. Contoh-contoh itu juga tidak akan begitu menginspirasi. Ketika kita melihat pengorbanan diri yang luar biasa dalam mengikuti sebuah prinsip, kita terinspirasi dan tergerak. Tapi ketika kita melihat seseorang yang mengikuti sebuah prinsip dengan hampir tidak ada pengorbanan atau biaya sama sekali untuk dirinya, kita tidak terkesan sama sekali.
Metode kedua juga akan gagal karena itu lebih menarik emosi dari pada pikiran. Hanya pikiran yang bisa menghasilkan perubahan yang tahan lama dalam karakter seseorang.Metode ini juga mengarahkan murid untuk menghubungkan moralitas dengan sensasi sandiwara yang tidak mungkinterjadi, dan karenanya memandang rendah kewajiban sehari-hari yang mereka harus penuhi sebagai hal yang membosankan dan tak berguna.
Walaupun begitu, banyak filem tentang superhero adalah deontologis dan supervilian adalah utilitiarinist.
Kelebihan dan Kelemahan Teori Etika Kant
1.      Tidak melihat hasil (perbuatan buruk bisa memiliki hasil baik)
-          Hasil (kadang ketika hasil yang baik sangat jelas, jadi lebih baik melangar aturan)
2.      Universal, kemungkinan membuat hukum antar budaya, ras, dll
-          Tidak fleksibel; kadang ada keadaan individu yang mengharuskan melanggar aturan
3.      Jelas; anak kecil bisa memahamai ‘jangan lakukan apa yang kamu tidak ingin orang lain lakukan’.
-          Kurang motivasi; alasan bahwa satu perbuatan itu tidak rasional kurang memotivasi
4.      Otonomi,
-          Konflik antar kewajiban; tidak berbohong atau menyelamatkan hidup manusia
5.      Rasional; tidak dipengaruhi pertemanan, misalnya
-          Kewajiban absolut; kewajiban individu tidak bisa absolut
6.      HAM; dasar pembuatan UU HAM
-          Hukum moral; dipertanyakan bagaimana bisa dihasilkan nilai moral obyektif
7.      Kesamaan dan keadilan
-          Antroposentrik; makhluk non rasioanl tidak memiliki nilai intrinsik
8.      Hukum internasional
-          Tidak realistik; misalnya bahwa suatu perbuatan di satu kelompok tertentu dianggap buruk, maka kita tidak bisa menafikannya begitu saja dengan Maxim
9.      Obyektif; tidak terpengaruh budaya, interes
-          Sulit menentukan Maxim; ‘jangan berbohong’ atau ‘jangan menyebabkan kekerasan pada orang lain’
10.  Kewajiban; kadang berbuat karena cinta itu salah, tapi kewajiban selalu benar
-          A priori; dalam dunia medis perlu merujuk pada praktik
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Cari Blog Ini

 
Support : Komunitas Ma'rifat | Alumni ICAS
Proudly powered by Sairul El-Nafsahu
Copyright © 2014. KOMA - All Rights Reserved
Original Design by KOMA Sairul El-Nafsahu