Tema
Kajian Bulanan Komunitas Makrifat (KoMa)
Sabtu, 14 Maret 2015
Oleh:
Raidong Habibi Rambe
Latar Belakang Filsafat Fenomenologi
Kelahiran fenomenologi disebabkan oleh filsafat Modern yang mengalami gerak
subjektivisasi yang kebablasan. Filsafat Modern mengalami sebuah
penggelembungan subjektivitas manusia yang kemudian dikemas dengan
konsep-konsep seperti ‘rasio’ dan ‘subjek’. Seluruh gerak pemikiran modern
sejak Descartes sampai dengan Hegel, tidak lain merupakan pemikiran
subjektivisasi terhadap seluruh realitas, dan kemudian mendudukkan manusia
sebagai Subjek Rasional diatas segala-galanya sebagai pusat seluruh realitas (pengetahuan).
Pandangan subjektivisasi ini menjadi dasar bagi manusia yang sadar itu
sebagai awal dari segala sesuatu, dan kemudian seluruh realitas itu pada
akhirnya akan kembali kepada kesadaran manusia sendiri. Inilah semangat optimisme
modern yang bermaksud menegakkan kedudukan manusia sebagai manusia, namun
terjebak ke dalam pemutlakkan atas manusia dan rasionya.
Modernisme melepaskan alam dari daya magis-religius-spiritualnya, dan
kemudian melihat alam semata-mata sebagai objek yang dapat dikuasai serta
ditundukkan oleh nalar (rasio) manusia. Pandangan yang melihat alam semata-mata
sebagai objek, dan objek itu bekerja/bergerak menurut hukum-hukum sebab-akibat
yang dapat dikuasai rasio manusia, Kecenderungan inilah yang disebut Husserl
sebagai gerak objektivisasi (naturalisasi) yang kebablasan dalam pemikiran
Modern.
Fenomenologi Husserl sebagai Metode
Husserl dalam metode fenomenologinya menggunakan metode Epoche. Kata
Epoche berasal dari bahasa yunani yang berarti ‘menunda keputusan’ atau
‘mengosongkan diri dari keyakinan tertentu’. Dengan Epoche-nya berusaha
menyusun metode yang menyingkapkan, ‘memperlihatkan’ keadaan hakiki pada
tiap-tiap obyek pengetahuan yang mungkin ada, tanpa dicampuri dengan refleksi
dan pengetahuan pengalaman sedikitpun. Selain prinsip tersebut, Hesserl juga
memperkenalkan metode Lebenswelt (Dunia-Kehidupan).
Dengan ini, pengetahuan tidaklah merupakan tujuan yang melekat pada
dirinya sendiri, melaikan harus dipandang secara fungsional sebagai bagian dari
kebijaksanaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan serta untuk
menguasai alam. Pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai deskripsi mengenai
kenyataan yang lebih dalam, yang dapat dipandang sebagai pembatasan terhadap
dunia tempat manusia hidup sehari-hari. Karena apabila pengetahuan dijadikan
sebagai batas pandang dari realitas, maka kehidupan manusia tidak ubahnya
sebuah kehidupan mekanik yang dikontrol oleh pengetahuan tersebut.
Salah satu konsep kunci di dalam fenomenolog Husserl adalah
intensionalitas. Menurutnya setiap aktivitas manusia, baik fisik maupun mental,
seperti berpikir, selalu mengarah
pada suatu fenomena obyektif di luar dirinya. Dalam arti kesadaran tidak pernah
sadar pada dirinya sendiri, melainkan sadar akan sesuatu. Setiap obyek di luar
diri manusia hanya bisa dipahami sejauh obyek tersebut dipahami oleh kesadaran.
Husserl berpendapat bahwa inti dari filsafat bukalah obyek empiris,
melainkan isi dari kesadaran manusia. Dalam arti, filsafat terutama
fenomenologi, memang menjadi pendekatan yang berpusat pada ego manusia. Jika ingin
mengetahui hakekat dari obyek di luar diri manusia, maka yang harus dilakukan
justru adalah memahami kesadaran yang membuat manusia bisa mengetahui obyek
tersebut.
Fenomenologi Heidegger sebagai Basis Ontologi
Proyek utama filsafat Heidegger adalah mempertanyakan makna ‘Ada’. apa maksud
sesungguhnya dari konsep Ada?
Di dalam filsafat pertanyaan ini berada di ranah ontologi, yakni penyelidikan
tentang Ada
yang merupakan dasar dari seluruh realitas. Maka dapat juga dikatakan, bahwa
filsafat Heidegger fokus pada ontologi. Namun ontologi Heidegger tidak sama
dengan ontologi yang sudah ada sebelumnya.
Ada
adalah latar belakang dari semua tindakan keseharian manusia yang dapat dipahami
dengan akal budi. Konsep Ada merupakan konsep yang mencakup keseluruhan
realitas. Ada
adalah konsep yang ada di dalam setiap bentuk pengetahuan manusia tanpa
terkecuali.
Filsuf yang memberikan pengaruh besar di dalam ontologi, ilmu tentang Ada, ialah Plato dan
Aristoteles. Heidegger sendiri memang banyak berpijak pada pemikiran Plato
terutama Aristoteles. Menurut Heidegger seluruh sejarah metafisika dan ontologi
di dalam filsafat barat mengalami apa yang disebutnya kelupaan tetnang Ada (forgetfulness of
being).
Pemikiran Heidegger mengenai Being and Time memiliki dua proyek
dasar. Yang pertama adalah untuk merumuskan cara baru dalam menafsirkan seluruh
sejarah filsafat. Kedua adalah klarifikasi konsep Ada itu sendiri. Lebih jauh Ia berpendapat,
bahwa seluruh problem di dalam filsafat modern muncul, karena terpisahnya
subyek dari obyek, yakni manusia dengan dunia yang dipersepsinya. Keterpisahan
subyek manusia dan dunia obyek yang dipersepsinya adalah penyebab utama problem
di dalam filsafat yang tidak terselesaikan secara tuntas.
Heidegger berpendapat bahwa manusia adalah bagian dari alam keseluruhan,
karena manusia selalu ‘ada-di-dalam-dunia’ (being in the world). Jadi
manusia dan alam berada di dalam kesatuan ontologis yang utuh yang tak
terpisahkan. Maka dari itu sikap yang tepat dari manusia terhadap alam adalah
sikap yang memperlakukan alam sebagai bagian dari diri manusia itu sendiri.
Manusia dan alam adalah satu, karena gambaran tentang dunia merupakan gambaran
manusia tentang dunia, kedua hal itu tidak bisa dipisahkan.
Di tangan Heidegger, fenomenologi menjadi ontologi dalam arti ingin
kembali kepada obyek itu sendiri. Disini fenomenologi menolak semua rumusan
teori, asumsi, maupun prasangka yang seringkali justru mengaburkan proses untuk
mencapai pengetahuan.
Poros pemikiran Heidegger
bermuara pembedaan ontologis (ontologishe differenz), yaitu antara Sein
dan Seinde, Ada
dan Mengada. Seinde harus dipahami secara aktif, yaitu mengada, karena
ia tidak tergeletak begitu saja, melainkan bermukim. Istilah Being-in-the-world
bukan hanya ada di dalam dunia, melainkan bermukim, ada nuansa aktifitas di sana.
Untuk memahami Ada, menurut Heidegger, kita harus memulai dari Mengada
yang bisa mempertanyakan Ada.
Tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada.
Yang bisa melakukan itu hanyalah Dasein. Dasein berarti
‘Ada-di-sana’. Ada-di-sana untuk menunjukkan ciri khas kemewaktuan dan
keterlemparan manusia. Dasein bisa mempertanyakan Ada
karena memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka terhadap penyingkapan Ada.
Dasein tidak seperti Mengada benda-benda lain,
ia selalu dalam proses menjadi Ada.
Oleh karenanya, Dasein mungkin Ada,
tapi juga mungkin tiada. Bahkan Dasein adalah kemungkinan itu sendiri. Dasein
selalu berproses mencari jati dirinya, yakni dengan memahami Ada sebagai eksistensi Dasein itu
sendiri. Hal ini mungkin dilakukan Dasein dengan menyembul keluar dari
keseharian, yang melupakan Ada,
dan menyadari Adanya.
Eksistensialisme Ontologis Heiddeger
Keprihatinan Martin Heidegger kepada para filosof yang telah menyamakan
antara ‘berada’ manusia dengan benda, sehingga ketika
berbicara mengenai manusia, maka manusia identik dengan benda. Pokok
pemikirannya dicurahkannya pada pemecahan yang konkrit terhadap persoalan yang
mengenai arti ‘berada’, menurut Heiddeger persoalan tentang ‘berada’ ini belum
pernah dikemukakan dengan cara yang benar, karena orang telah mengira bahwa ia
telah tahu tentang itu, pada hal sebenarnya pengertian tentang ‘berada’ hingga
kini hanya samar-samar saja.
Menurut Heidegger, persoalan tentang ‘berada’ ini hanya dapat dijawab
melalui ontologi, artinya: jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan
dicari artinya dengan hubungan itu. Agar supaya usaha ini berhasil harus
dipergunakan metode fenomenologis. Karena yang terpenting adalah menemukan
makna kata ‘berada’ tersebut.
Menemukan arti ‘berada’ itu dapat dimengerti sebagai berada ialah
beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain, sedang
beradanya manusia, mengambil tepat ditengah-tengah dunia sekitarnya. Keberadaan
manusia disebut dengan dasein (berada di sana, atau di tempat). Berada artinya
menempati atau mengambil tempat. Untuk itu manusia harus keluar dari dirinya
dan berada di tengah-tengah segala berada.
Keberadaan manusia yaitu berada di dalam dunia maka ia dapat memberi
tempat kepada benda-benda disekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu
dan dengan manusia-manusia lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan
semuanya. Keberadaan manusia terbuka bagi dunianya dan bagi sesamanya.
Manusia adalah wadah
satu-satunya bagi penyingkapan Sang Ada.
Ia berdiri dalam suatu hubungan hermeneutis, dimana ia adalah seorang pembawa
pesan, pengungkap keberadaan. Manusia adalah media yang menghubungkan jurang
antara Ada yang
tersembunyi dan yang terungkap; antara ketidak-beradaan dan keberadaan.
Manusia memiliki potensi untuk
mempertanyakan keberadaannya. Melalui mempertanyakan ini, manusia membuka diri
terhadap realitas. Dengan mempertanyakan, manusia telah menggambarkan
keberadaan ke dalam penampakan Ada
itu sendiri. Proses mempertanyakan merupakan media eksistensi manusia.
Heidegger mengatakan: “Kelumpuhan seluruh hasrat mempertanyakan telah
menggerogoti kita sejak lama….mempertanyakan sebagai sebuah elemen fundamental
keberadaan historis telah surut dari kita”.
Proses
mempertanyakan-menginterpretasi tidak dalam pengertian filsafat modern yang
menggunakan pengandaian subjek-objek, dimana subjek begitu dominan dan berusaha
menguasai objek melalui unsur manipulatif. Ketika unsur-unsur subjektivitas
begitu dominan dalam proses interpretasi, maka yang terjadi bukanlah
pengungkapan realitas, melainkan pemaksaan.
Realitas, sejak Descartes,
selalu tertutup oleh hasrat kesadaran subjektif. Selama ini realitas hanya
dipahami sejauh kesadaran subjektif memahaminya. Apa yang dilakukan Husserl
melalui metode fenomenologis juga tidak mampu mengungkap realitas, sebab
kesadaran subjektif masih menjadi penentu di sana. Bagi Heidegger, realitas tidak mungkin
dipaksa untuk menyingkapkan diri. Realitas, mau tidak mau, harus ditunggu agar
ia menyingkapkan diri, proses penyingkapan realitas itu terjadi melalui
pengungkapan jati diri manusia yang dimulai dari mempertanyakan.
Hermeneutika Ontologis Heiddeger
Apa yang ditulis Heidegger sebagai
hermeneutika tidak bisa dipahami dalam pengertian pemahaman yang subjektif.
Hermeneutika juga bukan hanya sebuah metode pengungkapan realitas. Hermeneutika
adalah hakikat keberadaan manusia yang menyingkap selubung Ada. Ia tidak berada dalam pengertian
subjek-objek, dimana pemahaman tentang objek berangkat dari persepsi kategoris
dalam diri subjek. Subjek tidak memahami sejauh objek tidak mengungkapkan diri.
Subjek tergantung kepada pengungkapan objek.
Berangkat
dari proses mempertanyakan, berpikir, dan menginterpretasi, Heidegger kemudian
membahas bahasa sebagai satu yang amat signifikan dalam bangunan filsafatnya.
Heidegger berpendapat, bahasalah yang membuat manusia menjadi manusia.
Pertanyaan tentang hakikat manusia, pertama-tama seharusnya adalah pertanyaan
tentang hakikat bahasa. Sebab bahasalah yang memberi kemungkinan kepada manusia
menjadi manusia.
Heidegger
mencoba memberikan pengertian lain kepada bahasa dan tidak hanya berkutat pada
pengertian bahasa sebagai alat komunikasi saja. Bahasa merupakan artikulasi
eksistensial pemahaman. Heidegger terlibat secara serius dalam pembicaraan
tentang bahasa. Bahasa bukan alat, melainkan ia adalah sarana bagi pengungkapan
Ada kepada
manusia. Bahasa adalah rumah Ada
dan manusia bermukim di dalam bahasa.
Bahasa
kemudian juga bermakna ontologis. Antara keberadaan, kemunculan, dan bahasa,
saling mengandaikan. Keberadaan menjadi mungkin ketika ada ketersingkapan.
Dengan begitu, tidak akan ada keberadaan tanpa ketersingkapan, dan tidak ada
ketersingkapan tanpa keberadaan; demikian pula tidak ada keberadaan tanpa
bahasa, dan tidak ada bahasa tanpa keberadaan.
Bersama
pikiran, bahasa adalah juga ciri keberadaan manusia. Dalam bahasa, Ada mengejawantah.
Oleh karenanya, interpretasi merupakan kegiatan membantu terlaksananya
peristiwa bahasa karena teks mempunyai fungsi hermeneutik sebagai tempat
pengejawantahan Ada
itu sendiri.
Dengan
demikian, hermeneutika Heidegger telah mengubah konteks dan konsepsi lama
tentang hermenutika yang berpusat pada analisa filologi interpretasi teks.
Heidegger tidak berbicara pada skema subjek-objek, klaim objektivitas,
melainkan melampaui itu semua dengan mengangkat hermeneutika pada tataran
ontologis.

