Headlines News :

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.

My Blog List

Text Widget

Total Pageviews

Label

Labels

twitter

1 2 3 4

Pages

Followers

Popular Posts

Menu Utama

Home » » Fenomenologi Martin Heidegger

Fenomenologi Martin Heidegger

Written By Komunitas Ma'rifah on Sabtu, 16 Mei 2015 | 00.29


Tema Kajian Bulanan Komunitas Makrifat (KoMa)
 Sabtu, 14 Maret 2015



 Oleh: 
Raidong Habibi Rambe


Latar Belakang Filsafat Fenomenologi
Kelahiran fenomenologi disebabkan oleh filsafat Modern yang mengalami gerak subjektivisasi yang kebablasan. Filsafat Modern mengalami sebuah penggelembungan subjektivitas manusia yang kemudian dikemas dengan konsep-konsep seperti ‘rasio’ dan ‘subjek’. Seluruh gerak pemikiran modern sejak Descartes sampai dengan Hegel, tidak lain merupakan pemikiran subjektivisasi terhadap seluruh realitas, dan kemudian mendudukkan manusia sebagai Subjek Rasional diatas segala-galanya sebagai pusat seluruh realitas (pengetahuan).
Pandangan subjektivisasi ini menjadi dasar bagi manusia yang sadar itu sebagai awal dari segala sesuatu, dan kemudian seluruh realitas itu pada akhirnya akan kembali kepada kesadaran manusia sendiri. Inilah semangat optimisme modern yang bermaksud menegakkan kedudukan manusia sebagai manusia, namun terjebak ke dalam pemutlakkan atas manusia dan rasionya.
Modernisme melepaskan alam dari daya magis-religius-spiritualnya, dan kemudian melihat alam semata-mata sebagai objek yang dapat dikuasai serta ditundukkan oleh nalar (rasio) manusia. Pandangan yang melihat alam semata-mata sebagai objek, dan objek itu bekerja/bergerak menurut hukum-hukum sebab-akibat yang dapat dikuasai rasio manusia, Kecenderungan inilah yang disebut Husserl sebagai gerak objektivisasi (naturalisasi) yang kebablasan dalam pemikiran Modern.

Fenomenologi Husserl sebagai Metode
Husserl dalam metode fenomenologinya menggunakan metode Epoche. Kata Epoche berasal dari bahasa yunani yang berarti ‘menunda keputusan’ atau ‘mengosongkan diri dari keyakinan tertentu’. Dengan Epoche-nya berusaha menyusun metode yang menyingkapkan, ‘memperlihatkan’ keadaan hakiki pada tiap-tiap obyek pengetahuan yang mungkin ada, tanpa dicampuri dengan refleksi dan pengetahuan pengalaman sedikitpun. Selain prinsip tersebut, Hesserl juga memperkenalkan metode Lebenswelt (Dunia-Kehidupan).
Dengan ini, pengetahuan tidaklah merupakan tujuan yang melekat pada dirinya sendiri, melaikan harus dipandang secara fungsional sebagai bagian dari kebijaksanaan manusia yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan serta untuk menguasai alam. Pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai deskripsi mengenai kenyataan yang lebih dalam, yang dapat dipandang sebagai pembatasan terhadap dunia tempat manusia hidup sehari-hari. Karena apabila pengetahuan dijadikan sebagai batas pandang dari realitas, maka kehidupan manusia tidak ubahnya sebuah kehidupan mekanik yang dikontrol oleh pengetahuan tersebut.
Salah satu konsep kunci di dalam fenomenolog Husserl adalah intensionalitas. Menurutnya setiap aktivitas manusia, baik fisik maupun mental, seperti berpikir, selalu mengarah pada suatu fenomena obyektif di luar dirinya. Dalam arti kesadaran tidak pernah sadar pada dirinya sendiri, melainkan sadar akan sesuatu. Setiap obyek di luar diri manusia hanya bisa dipahami sejauh obyek tersebut dipahami oleh kesadaran.
Husserl berpendapat bahwa inti dari filsafat bukalah obyek empiris, melainkan isi dari kesadaran manusia. Dalam arti, filsafat terutama fenomenologi, memang menjadi pendekatan yang berpusat pada ego manusia. Jika ingin mengetahui hakekat dari obyek di luar diri manusia, maka yang harus dilakukan justru adalah memahami kesadaran yang membuat manusia bisa mengetahui obyek tersebut.

Fenomenologi Heidegger sebagai Basis Ontologi
Proyek utama filsafat Heidegger adalah mempertanyakan makna ‘Ada’. apa maksud sesungguhnya dari konsep Ada? Di dalam filsafat pertanyaan ini berada di ranah ontologi, yakni penyelidikan tentang Ada yang merupakan dasar dari seluruh realitas. Maka dapat juga dikatakan, bahwa filsafat Heidegger fokus pada ontologi. Namun ontologi Heidegger tidak sama dengan ontologi yang sudah ada sebelumnya.
Ada adalah latar belakang dari semua tindakan keseharian manusia yang dapat dipahami dengan akal budi. Konsep Ada merupakan konsep yang mencakup keseluruhan realitas. Ada adalah konsep yang ada di dalam setiap bentuk pengetahuan manusia tanpa terkecuali.
Filsuf yang memberikan pengaruh besar di dalam ontologi, ilmu tentang Ada, ialah Plato dan Aristoteles. Heidegger sendiri memang banyak berpijak pada pemikiran Plato terutama Aristoteles. Menurut Heidegger seluruh sejarah metafisika dan ontologi di dalam filsafat barat mengalami apa yang disebutnya kelupaan tetnang Ada (forgetfulness of being).
Pemikiran Heidegger mengenai Being and Time memiliki dua proyek dasar. Yang pertama adalah untuk merumuskan cara baru dalam menafsirkan seluruh sejarah filsafat. Kedua adalah klarifikasi konsep Ada itu sendiri. Lebih jauh Ia berpendapat, bahwa seluruh problem di dalam filsafat modern muncul, karena terpisahnya subyek dari obyek, yakni manusia dengan dunia yang dipersepsinya. Keterpisahan subyek manusia dan dunia obyek yang dipersepsinya adalah penyebab utama problem di dalam filsafat yang tidak terselesaikan secara tuntas.
Heidegger berpendapat bahwa manusia adalah bagian dari alam keseluruhan, karena manusia selalu ‘ada-di-dalam-dunia’ (being in the world). Jadi manusia dan alam berada di dalam kesatuan ontologis yang utuh yang tak terpisahkan. Maka dari itu sikap yang tepat dari manusia terhadap alam adalah sikap yang memperlakukan alam sebagai bagian dari diri manusia itu sendiri. Manusia dan alam adalah satu, karena gambaran tentang dunia merupakan gambaran manusia tentang dunia, kedua hal itu tidak bisa dipisahkan.
Di tangan Heidegger, fenomenologi menjadi ontologi dalam arti ingin kembali kepada obyek itu sendiri. Disini fenomenologi menolak semua rumusan teori, asumsi, maupun prasangka yang seringkali justru mengaburkan proses untuk mencapai pengetahuan.
Poros pemikiran Heidegger bermuara pembedaan ontologis (ontologishe differenz), yaitu antara Sein dan Seinde, Ada dan Mengada. Seinde harus dipahami secara aktif, yaitu mengada, karena ia tidak tergeletak begitu saja, melainkan bermukim. Istilah Being-in-the-world bukan hanya ada di dalam dunia, melainkan bermukim, ada nuansa aktifitas di sana.
Untuk memahami Ada, menurut Heidegger, kita harus memulai dari Mengada yang bisa mempertanyakan Ada. Tidak semua Mengada bisa bertanya tentang Ada. Yang bisa melakukan itu hanyalah Dasein. Dasein berarti ‘Ada-di-sana’. Ada-di-sana untuk menunjukkan ciri khas kemewaktuan dan keterlemparan manusia. Dasein bisa mempertanyakan Ada karena memiliki hubungan dengan Adanya, yakni terbuka terhadap penyingkapan Ada.
Dasein tidak seperti Mengada benda-benda lain, ia selalu dalam proses menjadi Ada. Oleh karenanya, Dasein mungkin Ada, tapi juga mungkin tiada. Bahkan Dasein adalah kemungkinan itu sendiri. Dasein selalu berproses mencari jati dirinya, yakni dengan memahami Ada sebagai eksistensi Dasein itu sendiri. Hal ini mungkin dilakukan Dasein dengan menyembul keluar dari keseharian, yang melupakan Ada, dan menyadari Adanya.

Eksistensialisme Ontologis Heiddeger
Keprihatinan Martin Heidegger kepada para filosof yang telah menyamakan antara  ‘berada’ manusia dengan  benda, sehingga ketika berbicara mengenai manusia, maka manusia identik dengan benda. Pokok pemikirannya dicurahkannya pada pemecahan yang konkrit terhadap persoalan yang mengenai arti ‘berada’, menurut Heiddeger persoalan tentang ‘berada’ ini belum pernah dikemukakan dengan cara yang benar, karena orang telah mengira bahwa ia telah tahu tentang itu, pada hal sebenarnya pengertian tentang ‘berada’ hingga kini hanya samar-samar saja.
Menurut Heidegger, persoalan tentang ‘berada’ ini hanya dapat dijawab melalui ontologi, artinya: jika persoalan ini dihubungkan dengan manusia dan dicari artinya dengan hubungan itu. Agar supaya usaha ini berhasil harus dipergunakan metode fenomenologis. Karena yang terpenting adalah menemukan makna kata ‘berada’ tersebut.
Menemukan arti ‘berada’ itu dapat dimengerti sebagai berada ialah beradanya manusia. Keberadaan benda-benda terpisah dengan yang lain, sedang beradanya manusia, mengambil tepat ditengah-tengah dunia sekitarnya. Keberadaan manusia disebut dengan dasein (berada di sana, atau di tempat). Berada artinya menempati atau mengambil tempat. Untuk itu manusia harus keluar dari dirinya dan berada di tengah-tengah segala berada.
Keberadaan manusia yaitu berada di dalam dunia maka ia dapat memberi tempat kepada benda-benda disekitarnya, ia dapat bertemu dengan benda-benda itu dan dengan manusia-manusia lain, dapat bergaul dan berkomunikasi dengan semuanya. Keberadaan manusia terbuka bagi dunianya dan bagi sesamanya.
Manusia adalah wadah satu-satunya bagi penyingkapan Sang Ada. Ia berdiri dalam suatu hubungan hermeneutis, dimana ia adalah seorang pembawa pesan, pengungkap keberadaan. Manusia adalah media yang menghubungkan jurang antara Ada yang tersembunyi dan yang terungkap; antara ketidak-beradaan dan keberadaan.
Manusia memiliki potensi untuk mempertanyakan keberadaannya. Melalui mempertanyakan ini, manusia membuka diri terhadap realitas. Dengan mempertanyakan, manusia telah menggambarkan keberadaan ke dalam penampakan Ada itu sendiri. Proses mempertanyakan merupakan media eksistensi manusia. Heidegger mengatakan: “Kelumpuhan seluruh hasrat mempertanyakan telah menggerogoti kita sejak lama….mempertanyakan sebagai sebuah elemen fundamental keberadaan historis telah surut dari kita”.
Proses mempertanyakan-menginterpretasi tidak dalam pengertian filsafat modern yang menggunakan pengandaian subjek-objek, dimana subjek begitu dominan dan berusaha menguasai objek melalui unsur manipulatif. Ketika unsur-unsur subjektivitas begitu dominan dalam proses interpretasi, maka yang terjadi bukanlah pengungkapan realitas, melainkan pemaksaan.
Realitas, sejak Descartes, selalu tertutup oleh hasrat kesadaran subjektif. Selama ini realitas hanya dipahami sejauh kesadaran subjektif memahaminya. Apa yang dilakukan Husserl melalui metode fenomenologis juga tidak mampu mengungkap realitas, sebab kesadaran subjektif masih menjadi penentu di sana. Bagi Heidegger, realitas tidak mungkin dipaksa untuk menyingkapkan diri. Realitas, mau tidak mau, harus ditunggu agar ia menyingkapkan diri, proses penyingkapan realitas itu terjadi melalui pengungkapan jati diri manusia yang dimulai dari mempertanyakan.

Hermeneutika Ontologis Heiddeger
         Apa yang ditulis Heidegger sebagai hermeneutika tidak bisa dipahami dalam pengertian pemahaman yang subjektif. Hermeneutika juga bukan hanya sebuah metode pengungkapan realitas. Hermeneutika adalah hakikat keberadaan manusia yang menyingkap selubung Ada. Ia tidak berada dalam pengertian subjek-objek, dimana pemahaman tentang objek berangkat dari persepsi kategoris dalam diri subjek. Subjek tidak memahami sejauh objek tidak mengungkapkan diri. Subjek tergantung kepada pengungkapan objek.
         Berangkat dari proses mempertanyakan, berpikir, dan menginterpretasi, Heidegger kemudian membahas bahasa sebagai satu yang amat signifikan dalam bangunan filsafatnya. Heidegger berpendapat, bahasalah yang membuat manusia menjadi manusia. Pertanyaan tentang hakikat manusia, pertama-tama seharusnya adalah pertanyaan tentang hakikat bahasa. Sebab bahasalah yang memberi kemungkinan kepada manusia menjadi manusia.
         Heidegger mencoba memberikan pengertian lain kepada bahasa dan tidak hanya berkutat pada pengertian bahasa sebagai alat komunikasi saja. Bahasa merupakan artikulasi eksistensial pemahaman. Heidegger terlibat secara serius dalam pembicaraan tentang bahasa. Bahasa bukan alat, melainkan ia adalah sarana bagi pengungkapan Ada kepada manusia. Bahasa adalah rumah Ada dan manusia bermukim di dalam bahasa.
         Bahasa kemudian juga bermakna ontologis. Antara keberadaan, kemunculan, dan bahasa, saling mengandaikan. Keberadaan menjadi mungkin ketika ada ketersingkapan. Dengan begitu, tidak akan ada keberadaan tanpa ketersingkapan, dan tidak ada ketersingkapan tanpa keberadaan; demikian pula tidak ada keberadaan tanpa bahasa, dan tidak ada bahasa tanpa keberadaan.
         Bersama pikiran, bahasa adalah juga ciri keberadaan manusia. Dalam bahasa, Ada mengejawantah. Oleh karenanya, interpretasi merupakan kegiatan membantu terlaksananya peristiwa bahasa karena teks mempunyai fungsi hermeneutik sebagai tempat pengejawantahan Ada itu sendiri.
         Dengan demikian, hermeneutika Heidegger telah mengubah konteks dan konsepsi lama tentang hermenutika yang berpusat pada analisa filologi interpretasi teks. Heidegger tidak berbicara pada skema subjek-objek, klaim objektivitas, melainkan melampaui itu semua dengan mengangkat hermeneutika pada tataran ontologis.


 
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Cari Blog Ini

 
Support : Komunitas Ma'rifat | Alumni ICAS
Proudly powered by Sairul El-Nafsahu
Copyright © 2014. KOMA - All Rights Reserved
Original Design by KOMA Sairul El-Nafsahu