Headlines News :

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.

My Blog List

Text Widget

Total Pageviews

Label

Labels

twitter

1 2 3 4

Pages

Followers

Popular Posts

Menu Utama

Home » » Heidegger untukku: tentang Berfilsafat, Ada, dan Bahasa

Heidegger untukku: tentang Berfilsafat, Ada, dan Bahasa

Written By Komunitas Ma'rifah on Sabtu, 16 Mei 2015 | 00.38


Tema Kajian Bulanan Komunitas Makrifat (KoMa)
 Sabtu, 14 Maret 2015
 

 oleh:


Cipta Bakti Gama

Sebagaimana dikatakan banyak ahli, Martin Heidegger (w. 1976) adalah salah satu pemikir terbesar yang pernah tampil dari daratan Eropa. Saya setuju dengan hal itu. Kebesarannya tentu saja berkaitan dengan buah pikiran yang ia hasilkan, yang bagi saya: “mahal”. Pemikiran Heidegger mahal karena untuk memahaminya kita harus “membayar” dengan jerih payah yang sangat melelahkan dan waktu yang panjang. Bisa jadi, jika kita ingin “benar-benar” paham, maka kita harus sumbangkan seluruh karir ilmiah kita untuknya. Kalau lah itu benar, saya saat ini mengambil posisi untuk tidak memilihnya. Sekalipun demikian, saya pikir dengan “membayar murah” bukan berarti kita tak bisa mendapatkan apapun dari sang pemikir besar ini. Itu yang saya lakukan. Di sini saya akan menuangkan relfeksi sederhana saya tentang beberapa fragmen pemikiran Heidegger, yaitu soal berfilsafat, Ada, dan bahasa; yang saya pahami dari Stanford Encyclopedia of Philosophy (2011), beberapa paper dalam antologi berjudul Interpreting Heidegger: Critical Essays (2011), dan suatu wawancara berdurasi tiga puluh menit dengan Richard Williamson, salah satu tokoh terpenting yang mengenalkan filsafat Heidegger ke dunia pengguna bahasa Inggris.
Heidegger memiliki dua karya besar: Sein und Zeit (1927) dan Beitrage zur Philosophie: Vom Ereignis (1936-1938). Dua karya ini, seperti dikatakan Williamson, mewaliki dua fase penting pemikirannya, yaitu Heidegger I dan II.
Di fase I, Heidegger mencoba bergelut dengan persoalan ‘Ada’ (Sein), yang menurutnya adalah subjek seharusnya yang dikaji dalam filsafat. Ia memandang bahwa filsafat Barat sepanjang sejarahnya telah salah arah karena membahas metafisika dengan cara memposisikan “realitas” sebagai ‘entitas-entitas yang ada’ (Seiendes), yang ia sebut dengan ‘ontik’. Menurutnya, seharusnya sebelum analisis yang bersifat ontik harus ada terlebih dahulu analisis yang bersifat ‘ontologis’, yaitu analisis tentang ‘ada sebagai ada’ (Sein). Dahulu Aristoteles memang telah mebahas persoalan itu, namun Heidegger tetap memandang perlakuan Aristoteles terhadap ‘ada sebagai ada’ juga bersifat ontik, tidak ontologis. Seharusnya, menurut Heidegger, Sein dibahas berangkat dari pertanyaan ‘bagaimana proses mengada muncul?’ (Wie west das Sein?)
Dalam analisisnya atas Ada secara ontologis ini Heidegger memperkenalkan konsep ‘ada-di-sana’ (Dasein).  Menurutnya, setiap proses meng-Ada terwujud dalam ‘ada-di-sana’, dalam istilah lainnya: ‘ada-di-dunia’ (In-der-Welt-sein). Ia berkata, “Tanpa ada-di-sana, tidak ada; tanpa ada, tidak ada-di-sana.” (Ohne Da-sein, kein Sein; ohne Sein, kein Da-sein).
Ada ragam interpretasi atas uraian Heidegger tentang Dasein. Dalam konteks ini, saya akan mengikuti interpretasi William Sheehan, seorang pakar Heidegger di Universitas Stanford, yang mengatakan bahwa sebenarnya yang dimaksud Heidegger dengan Dasein adalah ‘manusia’ (human being), dan yang ia maksud dengan Sein adalah ‘makna’ (meaning). Dari sini saya akan mencoba menyederhanakan pemahaman saya atas konsep Dasein sebagai berikut.
Mengada itu identik dengan mengetahui. Dalam proses mengetahui manusia mengalami suatu proses yang memiliki dua sisi, yaitu sisi keterlemparan ke dunia makna dan sisi usahanya menangkap beragam makna yang ia hadapi (proyeksi). Dalam menjalani proses seperti ini, manusia cenderung memposisikan dunia itu sebagai ‘alat’ (ready to hand)—misalkan kayu untuk dibuat meja, untuk dijual, untuk duduk, dst.; padahal sebenarnya dunia yang ‘ia hadapi’ (present at hand) itu memiliki beragam posibilitas relasional dengannya, sekalipun sifatnya terbatas (batas relasi ini ia sebut dengan ‘kematian’). Posibilitas-posibilitas relasi manusia dengan dunia itu akan menjadi tertentu dalam suatu ‘penyingkapan’ (αληθεια).
Di fase II Heidegger mengatakan ada semacam ‘belokan’ (die Kehre), yang bisa dikatakan merupakan ‘titik balik’ dari fase I, sekalipun bukan ‘perubahan pandangan’. Sekali lagi mengikuti Sheehan, saya akan membidik satu kata kunci pada Heidegger II ini: ‘Ereignis’.  
Ereignis—yang dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan kata ‘event’ (kejadian) dan ‘enowning’ (apropriasi), digambarkan oleh Heidegger sebagai sumber keberadaan. Antara Ereignis dan keberadaan ia ibaratkan sebagai sumber air dan sungai. Menurutnya, orang sering memperhatikan sungai namun luput dari menyadari sumbernya. Ia juga menyatakan bahwa sebenarnya ‘Ada itu menempel pada Ereignis’ (das Sein in das Ereignis gehört).
Uraian Heidegger tentang Ereignis diungkapkan dalam istilah-istilah yang tampak mistis. Contohnya, ia berbicara tentang ‘apropiasi Dasein oleh Sein’, bahwa ‘manusia dimiliki oleh Sein’, bahwa ‘Sein membutuhkan manusia untuk tersingkap’, bahwa ‘manusia tinggal di bumi, di bawah langit, di balik wahyu, dan di antara individu-individu yang akan mati (mortals)’, atau bahwa ‘sesuatu itu merupakan kesatuan dari empat unsur tersebut [tanah, langit, wahyu, dan para mortal (pen.)]’. Namun demikian, sebagian penafsir, seperti Sheehan, memandang bahwa maksud Heidegger bukanlah demikian. Ia mengakatan bahwa jika kita berangkat dari asumsi bahwa ontologi Heidegger sebenarnya merupakan suatu bentuk reduksi fenomenologis, kita bisa mendapati bahwa pembicaraan Heidegger tentang Sein, Zeit, Dasein, Ereignis, dan lainnya itu merupakan pembicaraan tentang kemengadaan manusia dalam meraih makna-makna—sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Bagi saya, secara konseptual, sah-sah saja jika sebagian orang mencoba menafsirkan filsafat Heidegger sebagai suatu bentuk mistisisme atau relevan dengannya. Saya sendiri tidak tahu apakah Heidegger memang seorang mistikus, memiliki pengalaman mistis, atau terpengaruh secara serius oleh mistisisme. Yang pasti banyak ahli Heidegger yang memilih tafsir non-mistis.
Ragam tafsir ini sendiri tampaknya berhubungan erat dengan cara Heidegger mengungkapkan pikirannya dalam bahasa (para filosof analitik dan positivisme logis menganggap bahasa Heidegger sebagai dipenuhi oleh pernyataan-pernyataan yang tak bermakna). Ia memang memandang bahasa “biasa” itu terlalu terbatas.
Saya sendiri setuju bahwa bahasa itu memiliki batasan (saya pikir semua orang akan sepakat dengan pernyataan ini). Hanya saja, saya tetap setuju dengan pandangan Aristotelian bahwa ujaran dalam pernyataan-pernyataan untuk mengungkapkan apapun—termasuk pemikiran (konsep) dan realitas tersaksikan, tidak akan keluar dari lima bentuk: demonstrasi, dialektika, retorika, puisi, atau sofistri. Saya lebih setuju dengan filosof yang memilih demonstrasi sebagai media komunikasi filosofis, dengan segala keterbatasannya. Retorika dan puisi juga memang diperlukan, namun bukan untuk media utama diskursus filosofis.  Dari sini, bagi saya, uraian demonstratif filosof lain tetang Ada—baik sebagai muţlaq al-wujûd ataupun al-wujûd al-muţlaq, lebih baik dari uraian Heidegger. 

Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Cari Blog Ini

 
Support : Komunitas Ma'rifat | Alumni ICAS
Proudly powered by Sairul El-Nafsahu
Copyright © 2014. KOMA - All Rights Reserved
Original Design by KOMA Sairul El-Nafsahu