Tema
Kajian Bulanan Komunitas Makrifat (KoMa)
Sabtu, 14 Maret 2015
oleh:
Cipta Bakti Gama
Sebagaimana dikatakan banyak ahli, Martin Heidegger (w. 1976) adalah salah
satu pemikir terbesar yang pernah tampil dari daratan Eropa. Saya setuju dengan
hal itu. Kebesarannya tentu saja berkaitan dengan buah pikiran yang ia hasilkan,
yang bagi saya: “mahal”. Pemikiran Heidegger mahal karena untuk memahaminya
kita harus “membayar” dengan jerih payah yang sangat melelahkan dan waktu yang
panjang. Bisa jadi, jika kita ingin “benar-benar” paham, maka kita harus
sumbangkan seluruh karir ilmiah kita untuknya. Kalau lah itu benar, saya saat
ini mengambil posisi untuk tidak memilihnya. Sekalipun demikian, saya pikir
dengan “membayar murah” bukan berarti kita tak bisa mendapatkan apapun dari sang
pemikir besar ini. Itu yang saya lakukan. Di sini saya akan menuangkan relfeksi
sederhana saya tentang beberapa fragmen pemikiran Heidegger, yaitu soal berfilsafat,
Ada, dan bahasa; yang saya pahami dari Stanford Encyclopedia of Philosophy
(2011), beberapa paper dalam antologi berjudul Interpreting
Heidegger: Critical Essays (2011), dan suatu wawancara berdurasi tiga puluh
menit dengan Richard Williamson, salah satu tokoh terpenting yang mengenalkan
filsafat Heidegger ke dunia pengguna bahasa Inggris.
Heidegger memiliki dua karya besar: Sein und Zeit (1927) dan Beitrage
zur Philosophie: Vom Ereignis (1936-1938). Dua karya ini, seperti dikatakan
Williamson, mewaliki dua fase penting pemikirannya, yaitu Heidegger I dan II.
Di fase I, Heidegger mencoba bergelut dengan persoalan ‘Ada’ (Sein),
yang menurutnya adalah subjek seharusnya yang dikaji dalam filsafat. Ia
memandang bahwa filsafat Barat sepanjang sejarahnya telah salah arah karena
membahas metafisika dengan cara memposisikan “realitas” sebagai ‘entitas-entitas
yang ada’ (Seiendes), yang ia sebut dengan ‘ontik’. Menurutnya,
seharusnya sebelum analisis yang bersifat ontik harus ada terlebih dahulu
analisis yang bersifat ‘ontologis’, yaitu analisis tentang ‘ada sebagai ada’ (Sein).
Dahulu Aristoteles memang telah mebahas persoalan itu, namun Heidegger tetap
memandang perlakuan Aristoteles terhadap ‘ada sebagai ada’ juga bersifat ontik,
tidak ontologis. Seharusnya, menurut Heidegger, Sein dibahas berangkat
dari pertanyaan ‘bagaimana proses mengada muncul?’ (Wie west das Sein?)
Dalam analisisnya atas Ada secara ontologis ini Heidegger memperkenalkan
konsep ‘ada-di-sana’ (Dasein). Menurutnya,
setiap proses meng-Ada terwujud dalam ‘ada-di-sana’, dalam istilah lainnya:
‘ada-di-dunia’ (In-der-Welt-sein). Ia berkata, “Tanpa ada-di-sana, tidak
ada; tanpa ada, tidak ada-di-sana.” (Ohne Da-sein, kein Sein; ohne Sein,
kein Da-sein).
Ada ragam interpretasi atas uraian Heidegger tentang Dasein. Dalam
konteks ini, saya akan mengikuti interpretasi William Sheehan, seorang pakar
Heidegger di Universitas Stanford, yang mengatakan bahwa sebenarnya yang
dimaksud Heidegger dengan Dasein adalah ‘manusia’ (human being),
dan yang ia maksud dengan Sein adalah ‘makna’ (meaning). Dari
sini saya akan mencoba menyederhanakan pemahaman saya atas konsep Dasein
sebagai berikut.
Mengada itu identik dengan mengetahui. Dalam proses mengetahui manusia
mengalami suatu proses yang memiliki dua sisi, yaitu sisi keterlemparan ke
dunia makna dan sisi usahanya menangkap beragam makna yang ia hadapi (proyeksi).
Dalam menjalani proses seperti ini, manusia cenderung memposisikan dunia itu
sebagai ‘alat’ (ready to hand)—misalkan kayu untuk dibuat meja, untuk
dijual, untuk duduk, dst.; padahal sebenarnya dunia yang ‘ia hadapi’ (present
at hand) itu memiliki beragam posibilitas relasional dengannya, sekalipun
sifatnya terbatas (batas relasi ini ia sebut dengan ‘kematian’). Posibilitas-posibilitas
relasi manusia dengan dunia itu akan menjadi tertentu dalam suatu ‘penyingkapan’
(αληθεια).
Di fase II Heidegger mengatakan ada semacam ‘belokan’ (die Kehre),
yang bisa dikatakan merupakan ‘titik balik’ dari fase I, sekalipun bukan
‘perubahan pandangan’. Sekali lagi mengikuti Sheehan, saya akan membidik satu
kata kunci pada Heidegger II ini: ‘Ereignis’.
Ereignis—yang dalam bahasa inggris diterjemahkan dengan kata ‘event’
(kejadian) dan ‘enowning’ (apropriasi), digambarkan oleh Heidegger
sebagai sumber keberadaan. Antara Ereignis dan keberadaan ia ibaratkan
sebagai sumber air dan sungai. Menurutnya, orang sering memperhatikan sungai
namun luput dari menyadari sumbernya. Ia juga menyatakan bahwa sebenarnya ‘Ada
itu menempel pada Ereignis’ (das Sein in das Ereignis gehört).
Uraian Heidegger tentang Ereignis diungkapkan dalam istilah-istilah
yang tampak mistis. Contohnya, ia berbicara tentang ‘apropiasi Dasein
oleh Sein’, bahwa ‘manusia dimiliki oleh Sein’, bahwa ‘Sein
membutuhkan manusia untuk tersingkap’, bahwa ‘manusia tinggal di bumi, di bawah
langit, di balik wahyu, dan di antara individu-individu yang akan mati (mortals)’,
atau bahwa ‘sesuatu itu merupakan kesatuan dari empat unsur tersebut [tanah,
langit, wahyu, dan para mortal (pen.)]’. Namun demikian, sebagian penafsir,
seperti Sheehan, memandang bahwa maksud Heidegger bukanlah demikian. Ia
mengakatan bahwa jika kita berangkat dari asumsi bahwa ontologi Heidegger
sebenarnya merupakan suatu bentuk reduksi fenomenologis, kita bisa mendapati
bahwa pembicaraan Heidegger tentang Sein, Zeit, Dasein, Ereignis,
dan lainnya itu merupakan pembicaraan tentang kemengadaan manusia dalam meraih
makna-makna—sebagaimana telah disinggung sebelumnya.
Bagi saya, secara konseptual, sah-sah saja jika sebagian orang mencoba
menafsirkan filsafat Heidegger sebagai suatu bentuk mistisisme atau relevan
dengannya. Saya sendiri tidak tahu apakah Heidegger memang seorang mistikus,
memiliki pengalaman mistis, atau terpengaruh secara serius oleh mistisisme.
Yang pasti banyak ahli Heidegger yang memilih tafsir non-mistis.
Ragam tafsir ini sendiri tampaknya berhubungan erat dengan cara Heidegger
mengungkapkan pikirannya dalam bahasa (para filosof analitik dan positivisme
logis menganggap bahasa Heidegger sebagai dipenuhi oleh pernyataan-pernyataan
yang tak bermakna). Ia memang memandang bahasa “biasa” itu terlalu terbatas.
Saya sendiri setuju bahwa bahasa itu memiliki batasan (saya pikir semua
orang akan sepakat dengan pernyataan ini). Hanya saja, saya tetap setuju dengan
pandangan Aristotelian bahwa ujaran dalam pernyataan-pernyataan untuk
mengungkapkan apapun—termasuk pemikiran (konsep) dan realitas tersaksikan,
tidak akan keluar dari lima bentuk: demonstrasi, dialektika, retorika, puisi,
atau sofistri. Saya lebih setuju dengan filosof yang memilih demonstrasi
sebagai media komunikasi filosofis, dengan segala keterbatasannya. Retorika dan
puisi juga memang diperlukan, namun bukan untuk media utama diskursus
filosofis. Dari sini, bagi saya, uraian
demonstratif filosof lain tetang Ada—baik sebagai muţlaq al-wujûd
ataupun al-wujûd al-muţlaq, lebih baik dari uraian Heidegger.

