Headlines News :

.

.
Diberdayakan oleh Blogger.

My Blog List

Text Widget

Total Pageviews

Label

Labels

twitter

1 2 3 4

Pages

Followers

Popular Posts

Menu Utama

Home » » Krisis Manusia Modern dalam Pandangan Nietzsche

Krisis Manusia Modern dalam Pandangan Nietzsche

Written By Komunitas Ma'rifah on Sabtu, 21 Februari 2015 | 04.14



Oleh: 
Raidong Habibi Rambe
 Sebuah Kesimpulan dari Kajian Komunitas Makrifat (KoMa)
Sabtu, 14 Februari 2015
Mendiskusikan pemikiran Nietzsche tidak pernah kering akan interpretasi. Bagi kalangan eksistensialis, sosok Nietzsche merupakan filsuf yang menitikberatkan pada proses eksistensi manusia. Begitu juga dengan kalangan post-strukturalis, Nietzsche adalah seorang yang sering melontarkan pemikiran-pemikiran kontraversi diatas bangunan bahasa sastra, atau bahasa hermeneutic, yang melampaui bahasa tanda dan penanda.

Kosep will to power Nietzsche menggambarkan bahwa manusia di alam ini memiliki eksistensi tinggi, karena hanya manusialah yang memiliki hasrat kuasa. Hasrat kuasa (will to power) merupakan titik awal lahirnya sebuah nilai, yang dengan hasrat tersbut manusia bisa mempengaruhi ataupun berkuasa atas seseorang dan juga alam.

Bila dielaborasikan pada sains, will to power (hasrat kuasa) manusia dalam melakukan pengamatan yang bersifat saintifik (fisika kuantum) akan menentukan hasil pengamatan. Atom dan stuktur atom, juga pergerakan atom akan menyesuaikan terhadap ‘keinginan’ pengamat. Disini, will to power diibarat sebagai laboratorium yang dimiliki manusia untuk mengamati ilmu-ilmu alam.

Tidak jauh berbeda dengan pemikiran tasawuf dalam Islam. Konsep will to power merupakan relasi kuasa yang dimiliki manusia untuk memanage diri, menguasai diri, atau lebih tepatnya menghidupkan hati. Dengan ini, will to power dapat disejajarkan terhadap konsep dasar dalam bertasawuf, “Barang siapa ‘mengetahui’ dirinya niscaya akan mengetahui Tuhannya”.

Eksistensi manusia yang dibicarakan diatas, baik dalam perspektif sains maupun perspektif tasawuf memiliki kedekatan dengan konsep will to power Nietzsche. Nietzsche berbicara ‘kuasa’ sebagai dasar nilai yang berujung pada sebuah pengetahuan, sedangkan sains berbicara mengenai proses pengamatan, bahwa hasil pengamatan akan menyesuaikan terhadap ‘keinginan’ (will) dari pengamat. Sedangkan tasawuf, kuasa (hati) pada diri sendiri perupakan titik pijak untuk mengenal manusia, alam dan Tuhan.

Selain pemikiran eksistensialis, post-strukturalis juga memilik klaim yang berbeda, menurut mereka pemikiran Nietzsche lebih condong kepada ilmu tanda dan penanda (hermeneutik). Ungkapan-ungkapan Nietzsche yang bombastis tentang ‘Tuhan telah mati’, ‘manusia setengah binatang’, ‘perempuan setengah dewa’, dan lain sebagainya. Bagi kalangan post-strukturalis, tanda tidak lagi cukup merepresentasikan makna dari penanda, bahwa symbol tidak cukup mewakili makna itu sendiri.

Lebih radikal lagi, antara tanda dan penanda memiliki realitas masing-masing yang berbeda, symbol punya realitas, bagitu juga makna punya realitas yang tidak sama dengan symbol. Bila metode ini digunakan membaca pemikiran Nietzsche, maka konsep tentang ‘Tuhan telah mati’ diartikan sebagai proposisi tentang ‘Tuhan’ yang dipahami manusia (Gereja) pada saat itu tentunya berbeda dengan ‘Tuhan’ itu sendiri (Tuhan sebagai realitas). Menurut kalangan post-strukturalis, proposisi ataupun ‘konsep’ tentang Tuhan memiliki realitas yang berbeda dengan Tuhan itu sendiri.

Begitulah ragam tafsiran dari berbagai kalangan dalam melihat pemikiran Nietzsche yang berbeda satu dengan lainnya. Dalam hal ini sosok Nietzsche memang penuh mesterius, dan lebih misteri lagi adalah pemikiran-pemikirannya yang tidak pernah selesai. Banyak filsuf, Barat maupun Islam terinspirasi dari pemikiran Nietzsche, dan tidak ketinggalan para penguasa dunia yang mengatasnamakan Negara juga tidak luput dari pengaruh pemikiran ‘kuasa’ Nietzsche.

Walau demikian, tetap ada sebuah pertanyaan, teka-teki yang belum terselesaikan dari sosok Nietzsche, dan hanya dialah yang tau jawaban tersebut. Ragam interpretasi yang diberikan oleh para filsuf belum bisa dikatakan mewakili maksud dan tujuan dari pemikiran Nietzsche. Secara epistemologis, pemikiran Nietzsche bisa dikatakan nihilisme, yang meniadakan nilai, menjungkirbalikkan moralitas, dan juga memusnahkan semua bangunan dan fondasi ilmu pengetahuan.

Secara histories, bila dilihat dari arus pemikiran yang berkembang saat itu, Nietzsche bukanlah seorang nihilis, melainkan penyerangan terhadap mainstrim berfikir pasca pencerahan, yang mana manusia belum bisa lari dari dominasi pemikiran Gereja. Rasionalitas yang diusung Rene Descartes belum memainkan peran pentingnya sebagai sebuah pemikiran filsafat. Tidak jauh berbeda dengan Immanuel Khant, dengan konsep moralitas yang ditawarkan masih terlihat jelas relasinya dengan bangunan dogma agama Kristen.

Bagi penulis, dan lagi-lagi ini sebuah tafsiran yang coba direlasikan kepada pemikiran Nietzsche. Sosok Nietzsche bukanlah seorang nihilis, melainkan lebih dekatnya sebagai seorang skeptis sejati. Nietzsche membunuh nilai akan tetapi masih meyakini nilai itu ada pada dirinya, dia menghujat moralitas budak tetapi mengimpikan motalitas tuan, Nietzsche menganggap manusia sebagai musuh dalam hal ‘kuasa nilai’ (willing), akan tetapi mengharapkan adanya manusia sempurna (ubermensch) sebagai sebuah proses yang tidak pernah berakhir.
Share this article :
Comments
0 Comments

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Cari Blog Ini

 
Support : Komunitas Ma'rifat | Alumni ICAS
Proudly powered by Sairul El-Nafsahu
Copyright © 2014. KOMA - All Rights Reserved
Original Design by KOMA Sairul El-Nafsahu